( وَالْفِقْهُ عِلْمٌ بِحُكْمٍ ) أى نسبة تامة فالعلم بها تصديق بتعلقها لا
تصورها لانه من مبادئ أصول الفقه ولا تصديق بثبوتها لأنه من علم الكلام (
شَرْعِيٍ ) أى مأخوذ من الشرع المبعوث به النبى الكريم ( عَمَلِيٍّ ) أى
متعلق بكيفية عمل قلبى أو غيره كالعلم بوجوب النية فى الوضوء وبندب الوتر (
مُكْتَسَبٌ ) ذلك العلم لمكتسبه ( مِنْ دَلِيْلٍ تَفْصِيْلِيٍّ ) للحكم
فالعلم كالجنس. وخرج بالحكم العلم بالذات والصفة والفعل كتصور الإنسان
والبياض والقيام وبالشرعى العلم بالحكم العقلى والحسى واللغوى والوضعى
كالعلم بأن الواحد نصف الإثنين وان النار محرقة وان النور الضياء وان
الفاعل مرفوع وبالعملى العلم بالحكم الشرعى العلمى أى الإعتقادى كالعلم فى
أصول الفقه بأن الإجماع حجة والعلم فى أصول الدين بأن الله واحد وبالمكتسب
علم الله وجبريل بما ذكر وكذا علم النبى به الحاصل بوحى وعلمنا به
بالضرورة بان علم من الدين بالضرورة كإيجاب الصلاة والزكاة والحج وتحريم
الزنا والسرقة وبالدليل التفصيلى العلم بذلك للمقلد فإنه من المجتهد بواسطة
دليل إجمالى وهو ان هذا الحكم أفتاه به المفتى وكل ما أفتاه به المفتى فهو
حكم الله فى حقه فعلمه مثلا بوجوب النية فى الوضوء كذلك ليس من الفقه
.
(Fiqh
adalah pengetahuan mengenai hukum) yaitu nisbah yang sempurna.
Pengetahuan nisbah yang sempurna adalah tashdiq hubungan al-nisbah yang
sempurna, bukan tashawwur-nya,(1) karena tashawwur al-nisbah yang
sempurna termasuk mubadi ushul fiqh dan bukan juga tsubut al-nisbah(2)
yang sempurna, karena ia termasuk dalam ilmu kalam (syar’i) yaitu
berasal dari syara’ dimana Nabi yang mulia diutus dengan sebabnya
(bersifat amalan) yaitu berhubungan dengan dengan tata cara beramal,
baik perbuatan hati maupun lainnya, seperti mengetahui kewajiban niat
pada wudhu dan disunatkan witir (yang diusahakan) ilmu itu bagi yang
mengusahakannya (dari dalil yang detil) bagi hukum. Maka perkataan
“ilmu” seperti jenis. Dengan perkataan “dengan hukum” keluarlah
pengetahuan mengenai suatu zat, sifat dan perbuatan, misalnya tashawwur
manusia, tashawwur putih dan tashawwur berdiri. Dengan perkataan
“syar’i” keluarlah pengetahuan mengenai hukum akal, kasat mata, bahasa
dan istilah nahu seperti pengetahuan bahwa satu setengan dari dua, api
dapat membakarkan, al-nur adalah cahaya dan al-fa’il adalah marfu’.
Dengan perkataan “bersifat amalan” keluarlah pengetahuan mengenai hukum
syar’i yang bersifat keyakinan, yaitu i’tiqad seperti pengetahuan dalam
ushul fiqh bahwa ijmak merupakan hujjah dan pengetahuan dalam ushuluddin
bahwa Allah adalah satu. Dengan perkataan “yang diusahakan” keluarlah
pengetahuan Allah dan Jibril mengenai yang telah disebutkan, demikian
juga pengetahuan Nabi yang didapatinya dari wahyu dan pengetahuan kita
dengan mudah mengenai yang telah disebutkan yakni dimaklum dari agama
dengan cara mudah, seperti kewajiban shalat, zakat, haji, haram zina dan
mencuri. Dengan perkataan “dalil yang detil” keluarlah pengetahuan
muqallid mengenai yang telah disebutkan. Pengetahuan ini bersumber dari
mujtahid dengan perantaraan dalil secara global, yaitu hukum ini
difatwakan oleh mufti dan setiap yang difatwakan oleh mufti merupakan
hukum Allah pada hak muqallid. Maka pengetahuan muqallid misalnya
mengenai kewajiban niat pada wudhu’ seperti itu tidak termasuk dari
fiqh.
Penjelasan
(1). Sebuah kalam tidak terlepas dari tashawwur
dan tashdiq. Tashawwur adalah mendapati gambaran sesuatu tanpa ada hukum
dengan nafi atau itsbat padanya. Sedangkan tashdiq adalah mendapati
nisbah terjadi atau tidak terjadi. Pada contoh Zaid adalah penulis,
maka memahami gambaran Zaid, gambaran penulis dan gambaran nisbah
(hubungan) antara Zaid dan penulis merupakan tashawwur. Sedangkan
mengetahui bahwa Zaid adalah benar-benar penulis atau tidak, maka
disebut tashdiq.1 Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian tashdiq
hubungan nisbah yang sempurna adalah mengetahui bahwa hubungan antara
mauuzhu’ dan mahmul benar-benar terjadi atau tidak terjadi. Sebagai
contoh dalam fiqh adalah seorang mujtahid mengetahui bahwa niat pada
wudhu’ adalah wajib, mengetahui bahwa basmallah dalam al-Fatihah shalat
adalah wajib dan lain-lain.
(2). Pengertian tsubut al-nisbah ialah
keyakinan yang memastikan hubungan antara mauzhu’ dan mahmul. Oleh
karena itu, tsubut al-nisbah hanya terdapat dalam ilmu kalam. Karena
ilmu kalam membicarakan sesuatu i’tiqad yang jazim (pasti). Dengan
demikian yang dimaksud dengan tashdiq di sini adalah zhan atau dugaan.
DAFTAR PUSTAKA
1.Muhammad bin Ali al-Shabban, Hasyiah al-Shabban ‘ala Syarah al-Sulaam, al-Haramain, Singapura, Hal.45
0 komentar:
Posting Komentar