( وَالصَّلاَةُ ) وهى من الله رحمة ومن الملائكة استغفار ومن الآدمى تضرع
ودعاء ( وَالسَّلاَمُ ) بمعنى التسليم ( عَلَىْ مُحَمَّدٍ ) نبينا ومحمد
علم منقول من اسم مفعول المضعف تسمى به نبينا بإلهام من الله تعالى تفاؤلا
بأنه يكثر حمد الخلق له لكثرة صفاته الجميلة ( وَآلِهِ ) هم مؤمنو بنى هاشم
وبنى المطلب ( وَصَحْبِه ) هو عند سيبويه اسم جمع لصحابة بمعنى الصحابى
وهو كما سيأتى من اجتمع مؤمنا بنبينا صلى الله عليه وسلم وعطف الصحب على
الآل الشامل لبعضهم لتشمل الصلاة والسلام باقيهم وجملتا الحمد والصلاة
والسلام على من ذكر خبريتان لفظا انشائيتان معنى اذ القصد بالأولى الثناء
على الله بأنه مالك لجميع الحمد من الخلق وبالثانية إيجاد الصلاة والسلام
لا الإعلام بذلك وان كان هو القصد بهما فى الأصل ( الْفَائِزِيْنَ ) أى
الناجين والظافرين ( مِنَ اللهِ ) متعلق بقولى ( بِالْقَبُوْلِْ ) قدم عليه
هنا وفيما يأتى رعاية للسجع ويجوز تعلقه بما قبله
.
(al-shalah )
dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah minta pengampunan dan
dari anak Adam adalah merendahkan diri dan do’a. (dan al-salaam) dengan
makna memberikan kesejahteraan (atas Muhammad) Nabi kita. Muhammad isim
‘alam yang berasal dari isim maf’ul yang berganda ‘ain fi’il-nya.
Dinamakan Nabi kita dengan nama Muhammaad adalah merupakan ilham dari
Allah karena tafa’ul (1) supaya banyak pujian makhluk atasnya karena
banyak sifat-sifat yang baik (dan atas keluarganya) mereka adalah
orang-orang yang beriman dari keturunan Hasyim dan keturunan
al-Muthallib. (serta atas sahabat-sahabatnya) Perkataan shahb menurut
Sibawaihi adalah isim jamak (2) bagi shahabah dengan makna al-shahabi
(sahabat). Sahabat sebagaimana nantinya adalah orang-orang beriman yang
pernah berkumpul (bertemu) dengan Nabi kita SAW. ‘Athaf perkataan “shahb
atas “al-ali” dimana “al-ali” (keluarga) termasuk dalam sebagian
sahabat supaya mencakup rahmat dan kesejahteraan atas sisanya (keluarga
Nabi yang bukan sahabat). Perkataan al-shalah dan al-salam atas
orang-orang yang telah disebutkan merupakan khabar pada lafazh dan
insya-i pada makna.(3) Karena yang diqashadkan pada masalah pertama
adalah sanjungan atas Allah dengan mengatakan bahwa Allah yang memiliki
semua pujian dari makhluk dan qashad pada masalah kedua adalah
menjadikan al-shalah (rahmat ) dan al-salam (kesejahteraan), bukan
memberitahukannya, meskipun memberitahukannya merupakan qashad perkataan
al-hamd dan al-salam pada asalnya. (al-faiziin) yaitu yang sukses dan
mendapat kemenangan (dengan ada penerimaan dari Allah) Perkataan
“minallah” dihubungkan kepada perkataan “bilqabul”. Didahulukan
perkataan “minallah” di sini dan yang akan datang guna memelihara
sajak. Boleh juga dihubungkan kepada sebelumnya.
Penjelasan
(1).
Tafa’ul adalah harapan akan datang kebaikan atau rahmat yang disebabkan
oleh perbuatan tertentu.Akar kata tafa-ul adalah fa’l. Menurut Kamus
Mahmud Yunus, makna fa’l adalah tanda akan baik. Sedangkan tafa-ul
adalah menenungi tanda akan baik, optimis.1 Dalam Qamus Idris Marbawy
Fa’l berarti sempena. Sedangkan Tafa-ul diartikan mengambil sempena atau
lawan tasya-um (menganggap sial)2 . Sempena (bahasa melayu) artinya
tanda baik. Dalam Kamus Mukhtar al-Shihah, fa’l : Seseorang yang sakit
mendengar orang lain berkata : “Hai salim (yang selamat) atau seseorang
yang membutuhkan sesuatu, mendengar orang lain berkata : “ Hai wajid
(mendapatkan sesuatu).3 Lalu orang sakit atau yang membutuhkan sesuatu
itu terbersit dalam hatinya mengharapkan kesembuhan atau mendapatkan
harapannya, sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim.4
Contoh tafa’ul adalah memalingkan rida’ (kain selendang) oleh khatib
pada saat khutbah shalat minta hujan dengan harapan berobah keadaan.5
(2).
Isim jamak adalah isim yang menunjukkan kepada sekumpulan satuan yang
tidak dapat di’athaf-kan dengan i’tibar bilangannya,6 seperti perkataan
“al-Qaum”. Pengertian perkataan ini tidak dapat disamakan dengan “qaum
wa qaum wa qaum” dan seterusnya. Berbeda halnya dengan “muslimuun”, maka
maknanya adalah muslim wa muslim wa muslim atau “rijal”, maka maknanya
rajul wa rajul wa rajul. Perkataan muslimuun dan rijal adalah jamak,
bukan isim jamak. Perkataan “shahb” di atas disebut isim jamak, karena
perkataan “shahb” menunjukkan kepada sekumpulan sahabat dan ia tidak
dapat disamakan dengan “shahb wa shahb wa shahb”.
(3). Khabar atau
berita adalah sebuah kalam dimana maknanya ditinjau dari aspek diri
kalam itu, maka ia berkemungkinan benar dan dusta,7 seperti dikatakan
“Muhammad adalah rasul”. Kalam ini meskipun faktanya benar, tetapi
maknanya ada kemungkinan benar dan dusta ditinjau dari aspek diri kalam.
Sedangkan insya-i adalah sebaliknya, yaitu maknanya tidak ada
kemungkinan benar dan dusta,8 seperti perintah, larangan, harapan,
lafazh akad dan lain-lain. Kalam pujian dan rahmat serta kesejahteraan
di atas pada asalnya adalah khabar, tetapi di sini bermakna insya-i
karena ia bermakna menjadikan sanjungan kepada Allah dan mendo’akan
rahmat dan kesejahteraan bagi orang-orang yang telah disebutkan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Hidakarya, Jakarta, Hal. 306
2. Idris Marbawy, Qamus Idris Marbawy, Bangkul Indah, Surabaya, Juz.I I, Hal. 75
3. Ar-Razy, Mukhtar al-Shihah, Darul Fikri, Beirut, Hal. 447
4. An-Nawawi, Syarah Muslim, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Beirut, Juz. XIV, Hal. 219
5. Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 264
6. Muhammad al-Ahdal, al-Kawakib al-Duriyah, Maktabah Muhammad bin Ahmad bin Nabhany wa Auladuhu, Surabaya, Juz. I, Hal. 17
7. Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 94
8. Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 94
0 komentar:
Posting Komentar