( المقدمات )
أى مبحثها افتتحتها كالأصل بتعريف أصول الفقه ليتصوره
طالبه بما يضبط مسائله الكثيرة ليكون على بصيرة فى تطلبها اذ لو تطلبها قبل
ضبطها لم يأمن فوات ما يرجيه وصرف الهمة الى ما لايعنيه فقلت ( أُصُوْلُ
الْفِقْه ) أى الفن المسمى بهذا اللقب المشعر بمدحه بابتناء الفقه عليه اذ
الأصل ما يبنى عليه غيره ( أَدِلَّةُ الْفِقْهِ الإِجْمَالِيَّةُ ) أى غير
المعينة كمطلق الأمر والإجماع من حيث انه يبحث عن أولهما بأنه للوجوب حقيقة
وعن ثانيهما بأنه حجة ( وَطُرُقُ اسْتِفَادَةِ جُزْئِيَّاتِهَا ) التى هى
أدلة الفقه التفصيلية المستفاد هو منها والمراد بالطرق المرجحات الآتى
أكثرها فى الكتاب السادس ( وَحَالُ مُسْتَفِيْدِهَا ) أى وصفات مستفيد
جزئيات ادلة الفقه الإجمالية وهو المجتهد لأنه الذى يستفيدها بالمرجحات عند
تعارضها دون المقلد والمراد بصفاته شرائطه الآتية فى الكتاب السابع
ويعبرعنها بشروط الإجتهاد وخرج بأدلة الفقه غير الأدلة كالفقه وأدلة غير
الفقه كأدلة الكلام وبعض أدلة الفقه وبالإجمالية التفصيلية وان لم يتغايرا
الا بالإعتبار كأقيموا الصلاة ولاتقربوا الزنا وصلاته صلى الله عليه وسلم
فى الكعبة فليست أصول الفقه وانما يذكر بعضها فى كتبه للتمثيل
.
Muqaddimah
Yaitu
pembahasannya, yang saya mulai sebagaimana asal, dengan devinisi ushul
fiqh, supaya yang mempelajarinya dapat menggambarkannya dengan hal-hal
yang dapat mengukur masalah-masalahnya yang banyak, agar dapat
dimengerti dalam mempelajarinya. Karena seandai mempelajarinya sebelum
ada pengukurannya, maka tidak akan aman dari hilang hal-hal yang
diharapkannya dan menggunakan kemauan kepada sesuatu yang tidak
diinginkan. Maka saya berkata (Ushul fiqh) yaitu pelajaran yang
dinamakan dengan nama ini mengindikasikasi terpujinya karena dibangun
fiqh atasnya, karena ashal merupakan sesuatu yang dibangun yang lain di
atasnya(1) (adalah dalil-dalil fiqh secara global,) yaitu tidak secara
mendetil. Misalnya mutlaq amar dan ijmak, dimana pembahasan untuk yang
pertama pada hakikatnya adalah wajib dan pembahasan untuk yang kedua
bahwa ia merupakan hujjah(2).(metode-metode istimbath satuan-satuannya)
yaitu dalil-dalil fiqh yang detil yang diistinbath fiqh darinya. Yang
dimaksudkan dengan metode-metode adalah murajjahah yang kebanyakannya
ada dalam kitab ke-enam. (dan keadaan orang yang mengistinbathkannya(3))
yaitu sifat-sifat orang yang mengistinbath satuan-satuan dalil-dalil
fiqh secara global, yaitu mujtahid, karena mujtahid merupakan orang yang
melakukan istinbath dalil-dalil fiqh dengan murajjahah (4) pada ketika
terjadi pertentangan dalil, bukan muqallid.(5) Yang dimaksud dengan
sifat-sifatnya adalah syarat-syaratnya yang akan disebut dalam kitab
ke-tujuh. Disebut untuknya dengan nama syarat-syarat ijtihad. Dengan
perkataan “dalil-dalil fiqh”, keluarlah yang bukan dalil seperti fiqh
dan dalil bukan fiqh seperti dalil ilmu kalam dan sebagian dalil fiqh.
Dengan perkataan “secara global” keluarlah dalil yang detil, meskipun
keduanya tidak berbeda kecuali dengan i’tibar, seperti “aqimu al-shalah”
dan “la taqribuu al-zina” serta shalat Nabi SAW dalam ka’bah, maka itu
bukanlah ushul fiqh.(6) Disebut sebagiannya dalam kitab-kitab ushul
fiqh hanya sebagai contoh.
Penjelasan
(1). Lawannya adalah furu’,
yaitu sesuatu yang dibangun atas lainnya. 1 Seperti ranting kayu yang
berada atas pohon kayu. Pohon merupakan asal dan rantingnya sebagai
furu’. Dalam ushul fiqh, fiqh merupakan furu’ dan ushul fiqh adalah
asal, karena fiqh dibangun dengan berpedoman kepada ushul fiqh dan
berdasarkan devinisi di atas, maka fiqh tergantung atas tiga perkara,
yaitu dalil-dalil secara global, al-murajjahah dan sifat-sifat mujtahid.
2
(2). Yang menjadi pembahasan Ushul fiqh hanya sekitar masalah
seperti makna amar, makna nahi dan lainnya. Sedangkan kegiatan
menyimpulkan bahwa shalat adalah wajib berdasarkan misalnya ayat “aqimuu
al-shalah”, maka ini sudah keluar dari ruang lingkup pembahasan Ushul
fiqh.
(3). Istinbath adalah mengeluarkan makna-makna dari nash-nash
dengan membuka pikiran dan kemampuan kecerdasannya. 3 Sehingga dengan
demikian, dapat menghasilkan sebuah kesimpulan hukum.
(4). Akar kata
murajjahah adalah tarjih dengan makna lebih mengutamakan. Al-Jarjani
mendevinisikannya dengan “penetapan suatu nilai lebih kepada salah satu
dalil dengan meninggalkan yang lainnya.” 4 Maka yang dimaksud dengan
murajjahah di sini adalah dalil-dalil yang lebih diutamakan atau yang
diberikan nilai-nilai lebih, seperti terjadi pertentangan antara dalil
yang banyak perawi dengan yang sedikit perawinya, maka tentunya diutama
dalil yang banyak perawi, 5 misalnya kabar yang menyatakan jumlah
raka’at shalat Tarawih pada masa Umar bin Khatab. Hanya Malik yang
meriwayat sebelas raka’at. Sedangkan kebanyakan ahli hadits mengatakan
dua puluh raka’at. 6
(5). Akar kata muqallid adalah taqlid. Taqlid
adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. 7 Jadi,
muqallid adalah orang yang mengikuti pendapat orang lain tanpa
mengetahui dalilnya
(6). Contohnya “aqimu al-shalah”, “la taqribuu
al-zina” dan shalat Nabi SAW dalam ka’bah, ditinjau dari sisi bahwa ia
merupakan contoh amar, nahi dan perbuatan Rasulullah SAW, maka termasuk
dalam katagori ushul fiqh dan ditinjau dari sisi bahwa ia adalah dalil
diwajibkan shalat, haram berzina dan dibolehkan shalat dalam ka’bah,
maka tidak termasuk dalam ushul fiqh.
DAFTAR PUSTAKA
1.Jalaluddin al-Mahalli, Syarah al-Warqat, dicetak pada hamisy Hasyiah al-Dimyathi, Raja Murah, Pekalongan, Hal. 3
2.Al-Banany, Hasyiah al-Banany ‘ala Syarah Jam’u al-Jawami’, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 36
3.Al-Jarjany, al-Ta’rifat, Maktabah Misykah al-Islamiyah, Hal. 13
4.Al-Jarjany, al-Ta’rifat, Maktabah Misykah al-Islamiyah, Hal. 40
5.Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 142
6.Ibnu Abd al-Bar, al-Istizkar, Dar al-Qatibah, Damsyiq-Beirut , Juz. V, Hal. 154
7.Zakariya al-Anshary, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 150
أى مبحثها افتتحتها كالأصل بتعريف أصول الفقه ليتصوره طالبه بما يضبط مسائله الكثيرة ليكون على بصيرة فى تطلبها اذ لو تطلبها قبل ضبطها لم يأمن فوات ما يرجيه وصرف الهمة الى ما لايعنيه فقلت ( أُصُوْلُ الْفِقْه ) أى الفن المسمى بهذا اللقب المشعر بمدحه بابتناء الفقه عليه اذ الأصل ما يبنى عليه غيره ( أَدِلَّةُ الْفِقْهِ الإِجْمَالِيَّةُ ) أى غير المعينة كمطلق الأمر والإجماع من حيث انه يبحث عن أولهما بأنه للوجوب حقيقة وعن ثانيهما بأنه حجة ( وَطُرُقُ اسْتِفَادَةِ جُزْئِيَّاتِهَا ) التى هى أدلة الفقه التفصيلية المستفاد هو منها والمراد بالطرق المرجحات الآتى أكثرها فى الكتاب السادس ( وَحَالُ مُسْتَفِيْدِهَا ) أى وصفات مستفيد جزئيات ادلة الفقه الإجمالية وهو المجتهد لأنه الذى يستفيدها بالمرجحات عند تعارضها دون المقلد والمراد بصفاته شرائطه الآتية فى الكتاب السابع ويعبرعنها بشروط الإجتهاد وخرج بأدلة الفقه غير الأدلة كالفقه وأدلة غير الفقه كأدلة الكلام وبعض أدلة الفقه وبالإجمالية التفصيلية وان لم يتغايرا الا بالإعتبار كأقيموا الصلاة ولاتقربوا الزنا وصلاته صلى الله عليه وسلم فى الكعبة فليست أصول الفقه وانما يذكر بعضها فى كتبه للتمثيل
0 komentar:
Posting Komentar